in

Sejarah Perang Kalijaga Lombok: Konsekuensi Penolakan Undangan Raja Mataram Oleh Dea Guru dan Dea Mraja

Sejarah Perang Kalijaga Lombok
Sejarah Perang Kalijaga Lombok

Hit.politik.us, Sejarah Perang Kalijaga Lombok— Sebelum dilantik menjadi raja, Anak Agung Gde Ngurah Karangasem berfikir bagaimana cara agar dua golongan yang berbeda agama bisa berdamai.

Atas petunjuk gaib dalam pertapaan di Batu Bolong, ia bermimpi saat itu kejatuhan bulan di Kalijaga.

Anak Agung Gede Ngurah Karangasem bersama Gusti Gde Wanasara kemudian melamar Dende Aminah dari Desa Kalijaga Lombok Timur. Dende Aminah dipercaya sebagai pemegang Wahyu Kedaton Selaparang.

Dende Aminah merupakan putri dari Dea Guru, seorang pemuka Islam yang terkenal shaleh. Baliau adalah saudara dari Dea Meraja, pemimpin desa Kalijaga.

Dea Guru dan Dea Meraja menolak lamaran itu karena sudah dijanjikan bantuan oleh Raja Amir dari Desa Mamben dan Raden Kardiyu dari Korleko bila nantinya diserang oleh Mataram.

Anak Agung Gde Ngurah berkirim surat kepada Dea Guru dan Dea Mraja untuk datang ke Mataram, tetapi undangan itu ditolak, karena datang ke Mataram berarti mati.

Penolakan surat tersebut sangat menyakitkan hati raja. Maka siasat lamapun dijalankan, “Pecah dan Kuasai”.

# Perlawanan Kalijaga

Atas berbagai pertimbangan, akhirnya surat pemanggilan tersebut dipenuhi. Maka diutuslah Raden Kardiyu dim Raden Amir ke Mataram.

Sesampainya di Mataram, mereka diterima oleh Patih Gusti Wanasara. Meskipun tanpa bukti, mereka dituduh memberontak.

Kemudian mereka diikat dan dibawa ke Sema (Kuburan Bali) untuk menjalani hukuman mati. Ternyata mereka tidak mempan senjata.

Gusti Wanara melaporkan kejadian yang sangat aneh ini kepada Raja. Rajapun mengampuni keduanya dengan syarat agar supaya mereka berdua bersedia menangkap Dea Raja dan Dea Guru dalam keadaan hidup atau mati.

Demikianlah, Mamben dan Korleko pun menyerang Kalijaga. Namun serangan itu dapat ditahan oleh Kalijaga.

Raden Amir dan Raden Kardiyu tersadar, bahwa mereka harus berpihak kepada Kalijaga. Akhirnya mereka pun berbalik melawan Mataram. Mereka berencana menyerang kedudukan Mataram di Pringgasela dengan beberapa strategi:

# Dari Barat Daya dipimpin oleh Dea Mraja dibantu oleh Raden Kardiyu, Mamiq Lisah, Mamiq Putra, Pun Kebian dan Raden Nuna Darmasih.

# Dari Arah Timur dipimpin oleh Dea Guru dibantu ol,eh Raden Amir, Pe Sumping, Mamiq-Dalu, Papuq Lokah, Amaq Kedian, Mamiq Mesir, dan Pe Rumah.

Ketika peperangan berlangsung, Raden Amir dan Raden Kardiyu ingat janjinya sehingga berbalik melawan Kalijaga.

Raden Amir, Raden Kardiyu, Pe Sriyaman yang membela Mataram memukul mundur pasukan. Kalijaga untuk kemudian membakar Kalijaga.

Halaman: 1 2
Sejarah Awal Bermula Penghitungan Quick Count di Indonesia

Sejarah Awal Bermula Penghitungan Quick Count di Indonesia

28 Oktober dikenal sebagai hari sumpah pemuda, kala itu seluruh pemuda sari seantero tanah air menyatakan Sumpah setia mereka terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menggema, mengeletar suara kompak para generasi penerus bangsa. Alunan lembut mengiringi setiap ucapan janji setia mereka. Kobar semangat menebar kepada siapa sajayang mendengarkan kata-kata mereka. Suara yang setiap tahun bergema ini kembali terdengar, tuntutan kebangkitan pemuda atau seruan agar kaum muda mulai mengambil alih kepemimpinan. Tuntutan dan seruan ini tampaknya relevan, mengingat kegagalan reformasi yang dulu justru digerakkan oleh pemuda. Cara yang digarap adalah melakukan perubahan atau transformasi politik sebagai hal yang paling fundamental yang harus dikerjakan generasi muda.  Persoalannya, jika politik tidak berhasil melakukan perubahan, faktor apa yang salah dari lembaga politik tersebut? Ada enam faktor yang perlu diperhatikan: masalah konsep atau ideologi, sistem, lembaga, strategi, program, implementasi program, dan aktor politik. Andaikata tidak ada persoalan pada kelima faktor terdahulu, maka kegagalan politik terkait pada aktor politik. Persoalan aktor politik yang bisa muncul adalah tentang visi dan kemampuan.  Visi umumnya bersifat transenden untuk kepentingan  mencapai cita-cita politik jangka panjang. Sedangkan kemampuan merupakan kesanggupan implementatif, yang selain skill, juga menuntut kemampuan fisik. Pemuda dan Politik Pemuda harus mengambil bagian didalam politik. Dalam politik yang menekankan pentingnya aktor yang bersifat personal dan fungsi regenerasi kepemimpinan jangka panjang, maka persoalan kemampuan fisik menjadi hal yang penting.  Sejauh mana politik mampu melakukan perubahan sangat tergantung sejauh mana lembaga politik melakukan regenerasi terhadap aktor-aktornya. Sebaliknya ada yang berpikir bahwa visi bisa diimplementasikan oleh skill dan kemampuan sistem yang bersifat impersonal.  Dalam hal ini, yang dilaksanakan bukan regenerasi, melainkan rejuvenasi terhadap visi sang aktor Pilihan antara regenerasi dan rejuvenasi itu, jelas mengandung konsekuensi yang berbeda, di mana generasi muda diharapkan dapat memilih dengan cara yang tepat.  Bahwa pilihan untuk melakukan, baik regenerasi maupun rejuvenasi, sangat terkait dengan keinginan agar politik mampu melakukan suatu perubahan yang signifikan. Sebab jika keduanya tanpa menawarkan konsep dan perubahan, berarti hanya merupakan suksesi biologis atau sekadar power shift. Kekacauan dan Hiruk- pikuk tuntutan tentang pentingnya kaum muda diberi peran politik lebih besar seharusnya tidak hanya menuntut dilakukannya regenerasi dalam rangka kelanjutan sebagai bangsa yang besar, tetapi juga mengangkat konsep perubahannya juga.  Munculnya Mahatma Gandhi sebagai tokoh politik muda anti kolonialis yang fenomenal di India, karena menawarkan suatu gerakan perubahan alternatif (swadeshi). Hal yang sama terjadi saat Mao Ze Dong muncul sebagai tokoh muda partai dengan konsep  long march-nya.  Sedangkan perubahan revolusioner digambarkan oleh sepak terjang Che Guevara dan Fidel Castro muda pada masa lalu. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, menandai posisi strategis kaum muda dalam perubahan berskala bangsa. Nilai politis Sumpah Pemuda adalah sebagai instrumen perlawanan atau platform dari sebuah front kesatuan nasional dalam melawan penjajah. Budi Utomo atau “Jong-Jong” lain yang masih berjuang secara parsial, melebur dalam jaringan perjuangan front nasional tersebut. Konsep perubahan yang terkandung dalam Sumpah Pemuda jelas adalah kemerdekaan Indonesia yang dianggap masih prematur untuk dikemukakan dan dikhawatirkan akan mengaborsi perjuangan kemerdekaan. Pro-youth yang pro-people dalam Sumpah Pemuda, membuktikan bahwa generasi muda tidak merengek meminta peran politik dari generasi tua. Kaum muda secara tersirat mengatakan “Saatnya Kaum Muda Memimpin” dengan menunjukkan potensi politiknya, antara lain populasi yang besar, sikap murni, jujur, dan berani, kemampuan fisik dan sebagai generasi penerus terdidik yang bisa diandalkan.  Mereka secara spontan mengisi kekosongan gerakan kemerdekaan yang tidak dilakukan oleh pejuang tua, yakni perjuangan massal dan bersenjata. Ini adalah cara bagaimana generasi muda membangun kekuatan tawarnya dan menyatakan bahwa regenerasi yang disertai rejuvenasi merupakan sebuah keniscayaan sejarah yang tak terelakkan. Kekuatan tawar yang  dibangun  pemuda tahun 1928 membuahkan hasil dengan diberinya peran pemuda pada BPUPKI/PPPKI (regenerasi) dan peran yang efektif sebagai pressure group untuk mempercepat proses kemerdekaan (rejuvenasi).  Pada saat generasi tua terlalu lamban mengambil keputusan, eksponen pemuda mendesak segera diproklamasikan kemerdekaan, seperti terjadi dalam peristiwa Rengasdengklok.

Sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober: Regenerasi Atau Rejuvenasi?